We Are Soulmate
![]() |
| We Are Soulmate |
Judul: We Are Soulmate Genre: Romance, fantasy
Mama bilang ia membawa seorang anak yatim piatu tinggal di rumah kami. Aku senang akhirnya bisa mendapatkan teman bermain. Aku berlari menuju kamarnya. Di sana sepi dan sunyi, aku tidak melihat dirinya. Saat aku melihat loteng, aku terkejut bahwa ia sedang berdiri disana. Aku takut, dia tampak misterius dan menyeramkan. Lalu aku memegang kakinya dengan tangan kecilku. Dia melihatku lalu tersenyum. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku sedikit takutnya dengannya. Dia masuk ke kamar melalui jendela. Kami tidak berbicara satu sama lain. Setelah itu aku lari menjauh.
Saat makan malam, aku melihatnya lagi. Dia duduk di hadapanku. Aku hanya diam. Mama mengatakan bahwa namanya adalah Hans Aurelius, dia akan menjadi bagian keluarga kita. Mama tidak memberi tahu asal usul Hans dan mengapa ia membawanya kemari sedangkan ia tidak terlalu suka anak-anak.
Setelah makan malam, kami masih tidak berbicara. Aku lari menuju kamar mama. Aku ingin bertanya tentang Hans. Tetapi, ia sudah berada di kamar mamaku. Aku berniat kembali, tapi aku ketahuan oleh mamaku. Ia menyuruh kami untuk bermain dan saling membiasakan diri.
Keesokan harinya, mama meninggalkan ku sendirian dengannya. Akhirnya aku hanya diam di kamar karena takut bertemu dengannya. Seseorang mengetuk pintu kamarku, sudah kepastikan kalau dia adalah Hans.
"Aku tahu kamu ada di dalam sana."
Aku masih tidak menjawabnya.
"Bibi meninggalkan masakan untukmu dan aku. Makanlah sebelum basi." setelah itu tidak ada suara apapun. Sepertinya Hans sudah pergi. Aku memberanikan diri mengintip di pintu. Benar saja, tidak ada siapapun. Lalu aku pergi ke dapur dan dia ada di sana dengan dua piring makanan. Aku terpaksa makan bersamanya dengan suasana aneh. Wajahnya tidak ramah sekali, itulah kenapa aku merasa takut.
Selesai makan pagi, kami mencuci piring masing-masing. Itu sedikit canggung apalagi ia pendiam dan aku juga sedikit pemalu. Ia kembali ke kamarnya, padahal itu membosankan. Aku lebih memilih menonton acara tv dari pada kembali ke kamar, tidak ada hal yang bisa dilakukan di sana. Tapi aku berharap kalau mama dan papa pulang cepat dengan membawa hadiah kecil.
Mama pulang larut malam sedangkan papa belum pulang. Aku tahu papa sibuk kerja di kantor karena itu ia jarang sekali pulang apalagi ia bekerja di perusahaan besar dengan jabatan penting.
"Kenapa kau belum tidur putriku tersayang." mama memelukku dan mencium kening ku.
"Di mana Hans?" tanya mama.
"Kamar."
"Dia di kamar seharian. " ucap ku.
"Apa putri mama tidak bermain dengan Hans??"
"Baiklah, tidur dulu, ini sudah larut malam." mama membawaku ke kamar.
"Tidur yang nyenyak.."
"Selamat Malam." kening ku dicium mama, aku menutup mata pura-pura tidur. Setelah itu lampu kamar dimatikan oleh mama. Walaupun usiaku lima tahun, aku tidak takut kegelapan.
Sepuluh tahun telah berlalu meninggalkan warna-warni kehidupan bagi setiap manusia. Keluarga kecil yang dulunya bahagia hanyalah kenangan masa lalu. Mengapa Hans bersama kami tidak pernah aku ketahui dari mama. Dialah yang membawa Hans ke rumah dan tampaknya papa tidak terlalu menyukai Hans. Papa masih orang yang gila kerja sejak ia naik jabatan. Keluarga kami hancur perlahan.
Liburan semester ini adalah momen yang paling ku nanti setelah ujian semester. Tidak jauh dari sekolah terdapat gua sebagai tempat wisata. Mama menyiapkan makanan ringan untuk kami. Aku dan Hans tidak mengalami perubahan dalam hubungan ini. Aku tidak bisa bercanda dengan sifatnya yang pendiam. Jadi, aku hanya berbicara ringan atau jika perlu. Tapi Hans memanggil mama dengan mama, itu membuat mama sangat senang. Aku tidak iri sih.
Kawasan gua sudah agak ramai dengan para murid. Kira-kira hanya seratus murid yang liburan di gua. Yang lain memilih untuk liburan di tempat lain.
"Haii!! " aku menyapa teman dekat smp. Segera ku dekati mereka dengan senang.
"Akhirnya kita kumpul lagi. " Sara memelukku.
"Senang bertemu lagi. " ucap ku.
Dua puluh siswa memasuki pintu gua. Di dalamnya terdapat pagar membatasi dengan daerah berair.
Sudah cukup dalam kami melihat gua. Yang menarik adalah airnya yang jernih dengan cahaya kecil dari luar.
"Hei, ayo berfoto. " ucap salah satu teman laki-laki.
Aku setuju, tidak sengaja aku kehilangan keseimbangan saat tangannya merangkul pundak ku. Aku terjatuh di air hangat, tetapi dia selamat dan hampir jatuh bersama ku.
Mataku perih hanya bisa memandang bingung. Saat itulah aku tersadar jika aku tenggelam dan tidak bisa bernafas. Dalam kekaburan, dua orang berenang ke arah ku.
"Uhuk-uhuk. " orang-orang melihat ke arahku. Itu membuatku tidak nyaman.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ian cemas. Aku merasa sangat beruntung sekaligus tidak percaya bahwa barusan aku hampir mati.
"Ya..terima kasih." kataku pelan.
"Em-."
"Biar aku saja yang urus. " ucap sara, ia membawaku menganti pakaian.
"Pemandu kita menyuruhmu pulang. "
"Jika merasa ada yang sakit..berobatlah. "
"Tak apa-apa, aku tidak harus pulang." sayang sekali jika liburan kali ini dilewatkan. Aku akan menghabiskan waktu di luar, berbelanja makanan tradisi dan apapun yang aku suka.
"Kembalikan uang saya. " aku marah dengan laki-laki ini. Jelas-jelas uangku jatuh dan dia tidak mau mengembalikannya kepadaku.
Laki-laki hanya mengejek sambil memamerkan uangku kemudian lari. Bahkan tidak ada seorangpun yang membantuku saat aku berdebat dengannya.
Aku kesal sekali, tiba-tiba Ian datang. Ian mengatakan "Aku merasa tidak enak jika kau berterima kasih kepadaku, tetapi Hans yang menyelamatkan mu. Aku rasa kau harus berterima kasih kepadanya dan maafkan aku, itu semua terjadi karena aku. Sampai jumpa! " Ian terburu-buru pergi masuk ke sebuah mobil. Tak lama mobil itu meninggalkan tempat wisata.
Papa hanya mengirimkan sedikit uang untuk kami agar bisa hidup mandiri dan tidak manja. Namun itu hanya bisa untuk membayar biaya sekolah. Sekarang mama berkerja untuk kami. Mama biasanya pulang larut malam tetapi ia bisa cuti berhari-hari.
Aku bertemu Hans saat makan malam. Aku mengatakan terima kasih sudah menolong ku. Ia agak terkejut, tapi aku benar-benar berterima kasih karena ia setidaknya peduli denganku.
Beberapa hari kemudian aku sedikit akrab dengan Hans dan mengetahui kebiasaannya. Hans biasanya belajar di kamar, itulah mengapa Hans pintar. Dia terkadang ada di loteng atau pergi ke halaman belakang rumah. Itu tidak buruk. Aku jadi ingat dulu di halaman belakang rumah terdapat ayunan. Mama biasanya menyuruh kami untuk bermain. Aku tertawa dengan diriku yang takut dengan Hans saat itu. Dia tidak berbeda dengan anak seumuran kami.
Semakin hari rasanya aku semakin deket dengan Hans. Aku mengunjungi Hans di kamarnya untuk meminta bantuan mengerjakan PR Matematika. Dia mau membantuku dengan syarat aku harus bersungguh-sungguh memperhatikan dia menjelaskan pemecahan soal matematika. Sejak saat itu aku juga menjadi cukup pintar.
Bertahun-tahun telah berlalu, aku merindukan Hans. Aku pergi ke kota sedangkan Hans tinggal di kota kecil. Sesungguhnya, terkadang aku mengalami kejadian aneh. Aku merasa waktu ini begitu cepat dan sangat cepat sampai aku tidak mengigat pasti apa yang aku lakukan beberapa hari ini? Kejadian ini sudah lama semenjak tinggal di pinggiran kota besar. Walaupun aku dan Hans berpisah, kami masih berkirim surat. Aku sangat mencintai Hans dan mama tidak marah saat mengetahui aku cinta Hans asalkan kami tidak melakukan hal-hal yang di luar batas seperti ciuman. Bertahun-tahun yang lalu waktu yang kuhabiskan dengan Hans seperti hatiku penuh dengan bunga-bunga bermekaran. Rasanya tidak sabar menemui Hans enam bulan mendatang.
Di pinggiran kota tidak seramai dengan pusat kota. Aku berjalan kaki di malam hari dengan sangat cemas dan ketakutan. Aku mendapat surat dari seorang pria yang tidak kukenal. Terlebih, surat itu t-tertulis aku hamil dan nama ayahnya adalah Tony. Aku tidak mengerti, bahkan melakukannya saja tidak pernah. Tidak mungkin aku hamil.
Aku ketakutan sampai tidak sadar sebuah mobil akan menabrak ku. Aku tidak jadi tertabrak tetapi mobil itu mengalami kecelakaan parah. Sekarang aku sangat ketakutan, polisi mendekati aku.
"Hei, ayo berfoto. " ucap salah satu teman laki-laki.
Aku setuju, tidak sengaja aku kehilangan keseimbangan saat tangannya merangkul pundak ku. Aku terjatuh di air hangat, tetapi dia selamat dan hampir jatuh bersama ku.
Mataku perih hanya bisa memandang bingung. Saat itulah aku tersadar jika aku tenggelam dan tidak bisa bernafas. Dalam kekaburan, dua orang berenang ke arah ku.
"Uhuk-uhuk. " orang-orang melihat ke arahku. Itu membuatku tidak nyaman.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ian cemas. Aku merasa sangat beruntung sekaligus tidak percaya bahwa barusan aku hampir mati.
"Ya..terima kasih." kataku pelan.
"Em-."
"Biar aku saja yang urus. " ucap sara, ia membawaku menganti pakaian.
"Pemandu kita menyuruhmu pulang. "
"Jika merasa ada yang sakit..berobatlah. "
"Tak apa-apa, aku tidak harus pulang." sayang sekali jika liburan kali ini dilewatkan. Aku akan menghabiskan waktu di luar, berbelanja makanan tradisi dan apapun yang aku suka.
"Kembalikan uang saya. " aku marah dengan laki-laki ini. Jelas-jelas uangku jatuh dan dia tidak mau mengembalikannya kepadaku.
Laki-laki hanya mengejek sambil memamerkan uangku kemudian lari. Bahkan tidak ada seorangpun yang membantuku saat aku berdebat dengannya.
Aku kesal sekali, tiba-tiba Ian datang. Ian mengatakan "Aku merasa tidak enak jika kau berterima kasih kepadaku, tetapi Hans yang menyelamatkan mu. Aku rasa kau harus berterima kasih kepadanya dan maafkan aku, itu semua terjadi karena aku. Sampai jumpa! " Ian terburu-buru pergi masuk ke sebuah mobil. Tak lama mobil itu meninggalkan tempat wisata.
Papa hanya mengirimkan sedikit uang untuk kami agar bisa hidup mandiri dan tidak manja. Namun itu hanya bisa untuk membayar biaya sekolah. Sekarang mama berkerja untuk kami. Mama biasanya pulang larut malam tetapi ia bisa cuti berhari-hari.
Aku bertemu Hans saat makan malam. Aku mengatakan terima kasih sudah menolong ku. Ia agak terkejut, tapi aku benar-benar berterima kasih karena ia setidaknya peduli denganku.
Beberapa hari kemudian aku sedikit akrab dengan Hans dan mengetahui kebiasaannya. Hans biasanya belajar di kamar, itulah mengapa Hans pintar. Dia terkadang ada di loteng atau pergi ke halaman belakang rumah. Itu tidak buruk. Aku jadi ingat dulu di halaman belakang rumah terdapat ayunan. Mama biasanya menyuruh kami untuk bermain. Aku tertawa dengan diriku yang takut dengan Hans saat itu. Dia tidak berbeda dengan anak seumuran kami.
Semakin hari rasanya aku semakin deket dengan Hans. Aku mengunjungi Hans di kamarnya untuk meminta bantuan mengerjakan PR Matematika. Dia mau membantuku dengan syarat aku harus bersungguh-sungguh memperhatikan dia menjelaskan pemecahan soal matematika. Sejak saat itu aku juga menjadi cukup pintar.
Bertahun-tahun telah berlalu, aku merindukan Hans. Aku pergi ke kota sedangkan Hans tinggal di kota kecil. Sesungguhnya, terkadang aku mengalami kejadian aneh. Aku merasa waktu ini begitu cepat dan sangat cepat sampai aku tidak mengigat pasti apa yang aku lakukan beberapa hari ini? Kejadian ini sudah lama semenjak tinggal di pinggiran kota besar. Walaupun aku dan Hans berpisah, kami masih berkirim surat. Aku sangat mencintai Hans dan mama tidak marah saat mengetahui aku cinta Hans asalkan kami tidak melakukan hal-hal yang di luar batas seperti ciuman. Bertahun-tahun yang lalu waktu yang kuhabiskan dengan Hans seperti hatiku penuh dengan bunga-bunga bermekaran. Rasanya tidak sabar menemui Hans enam bulan mendatang.
Di pinggiran kota tidak seramai dengan pusat kota. Aku berjalan kaki di malam hari dengan sangat cemas dan ketakutan. Aku mendapat surat dari seorang pria yang tidak kukenal. Terlebih, surat itu t-tertulis aku hamil dan nama ayahnya adalah Tony. Aku tidak mengerti, bahkan melakukannya saja tidak pernah. Tidak mungkin aku hamil.
Aku ketakutan sampai tidak sadar sebuah mobil akan menabrak ku. Aku tidak jadi tertabrak tetapi mobil itu mengalami kecelakaan parah. Sekarang aku sangat ketakutan, polisi mendekati aku.
Ketakutan membuatku berpikir negatif kalau akulah yang menyebabkan ini terjadi dan aku pembunuh?
Saat polisi mendekat, aku lari melewati gang yang tidak kuketahui. Aku terus berlari di malam hari, rumahku di daerah sebelah. Aku bertanya kepada seseorang disana jalan menuju daerah sebelah. Dia mengatakan aku hanya perlu lurus sampai menemukan laut. Dan aku hanya perlu menyebrang menggunakan perahu.
Saat di laut, aku melihat 3 perahu dengan orang berbeda. Firasat ku buruk sekali. Aku menyebrang dengan cepat. Sampai dirumah, aku terkejut dengan keberadaan mamaku. Dia seharusnya bersama Hans. Apa Hans kemari? Aku merasa sangat buruk untuk bertemu dengannya.
Tiba-tiba seseorang datang, dua adalah salah satu dari 3 pria di laut. Pria itu mengatakan "Kau sudah pulang ya? Selamat, kau menjadi ibu dari anakku. "
Hatiku hancur, jadi dia yang membuatku hamil. Itulah mengapa aku sering mual belakangan ini. "Siapa kau?" tanya ku.
"Sayang kau lupa aku? Coba perhatikan wajahku. " ucapnya. Wajahnya terlihat akrab. Ah anak itu, yang mengambil uangku saat smp.
"K-KAU?!"
"AKU SANGAT MEMBENCIMU BERENG*EK! !"
"KAU YANG MUNCUL DALAM MIMPI ITU HAH?! " aku lebih sakit hati. Aku kira itu hanyalah mimpi. Beberapa kali aku memimpikan seseorang datang ke rumahku.
"JANGAN MEMBUATKU MARAH. "
"Aku mencintaimu! Aku tahu ini salah, tapi aku mencintaimu. "
"KAU BERENG*EK!! "
"Ma ayo pergi." hidupku hancur karena karena Tony. Aku rasa harus memutuskan hubungan dengan Hans. Aku tidak ingin dia sakit hati saat mengetahui aku hamil anak pria lain.
"JANGAN BERGERAK. " tony mengeluarkan pistol. Aku tidak peduli dan menyuruh mamaku untuk pergi.
"AKU BILANG JANGAN BERGERAK. " Suara pistol sangat keras membuatku terkejut. Dia membunuh mamaku!! Aku khawatir menghampiri mama.
"JANGAN BERGERAK JAL*NG! !" Suara pistol terdengar berulang kali. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini. Inilah akhir hidupku.
Warga melaporkan suara tembakan yang terdengar sangat keras. Polisi menyelidiki kasus ini, dan TONY menjadi tersangka pembunuhan. Berita pembunuhan ini menjadi terkenal di negara. Ciri-ciri korban sama dengan kekasihnya. Hans menatap kosong. Ia segera pergi ke kamarnya. Impiannya sudah tidak berarti lagi bagi Hans, terlebih kekasihnya hamil. Ia pergi ke loteng, tempat pertemuan pertamanya dengan kekasihnya. Hans tidak sanggup menahan semua kepedihan ini, ia menangis di loteng.
"Hidupku sudah tidak berarti tanpanya. " Ia pasrah jatuh dari loteng yang tinggi.
Saat aku melihat loteng, aku terkejut bahwa ia sedang berdiri disana. Hans, Hans kecil berdiri di sana. Aku memegang kakinya d-dengan tanganku. Dia tersenyum sama seperti waktu itu. Aku menariknya masuk dan memeluknya. Hans diam, aku tidak bisa menahan tangisan.
"Kalaupun ini mimpi, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Hans! "
"Aku harap begitu." Hans menjawab perkataanku.
"Kamu membuatku kecewa. Mengapa kau melakukannya dengan pria lain?! !" perkataannya tidak cocok untuk dia yang masih kecil. M-mengapa dia ?!
"A-apa ini k-kenyataan? "
"Aku rasa..mungkin seperti surga? " ucap Hans.
"Jadi kau bukan Hans? !"
"AH, tentu saja dia pasti sudah hidup bahagia dengan wanita lain." ucap ku sedih.
"Aku adalah Hans, kekasihmu. " Ia berbisik kepadaku dan berkata kalau ia juga sudah mati..bunuh diri. Aku mengatakan aku juga tidak tahu mengapa aku hamil, aku benar-benar tidak tahu. Kehidupan baru dimulai, kami merahasiakannya dari orang-orang termasuk orang tuaku. Perlu belasan tahun lagi untuk segera menikah tetapi aku senang bisa hidup kembali bersama Hans.
Catatan: Cerita ini gw tulis karena gw gak mau melupakan mimpinya. Jujur gw kangen sama cowoknya di mimpi. Tapi ya, ceritanya gak 100% murni seperti di mimpi. Aku ubah sedikit nama tokohnya, alurnya, dan sebenarnya si tony di mimpi gw seorang psikopat. Dan tony gak ambil uang gw yang jatuh, alias karena masalah lain. Tapi gw cuman ingat nama tony aja. Nama cowoknya sama ceweknya lupaðŸ˜.
Saat polisi mendekat, aku lari melewati gang yang tidak kuketahui. Aku terus berlari di malam hari, rumahku di daerah sebelah. Aku bertanya kepada seseorang disana jalan menuju daerah sebelah. Dia mengatakan aku hanya perlu lurus sampai menemukan laut. Dan aku hanya perlu menyebrang menggunakan perahu.
Saat di laut, aku melihat 3 perahu dengan orang berbeda. Firasat ku buruk sekali. Aku menyebrang dengan cepat. Sampai dirumah, aku terkejut dengan keberadaan mamaku. Dia seharusnya bersama Hans. Apa Hans kemari? Aku merasa sangat buruk untuk bertemu dengannya.
Tiba-tiba seseorang datang, dua adalah salah satu dari 3 pria di laut. Pria itu mengatakan "Kau sudah pulang ya? Selamat, kau menjadi ibu dari anakku. "
Hatiku hancur, jadi dia yang membuatku hamil. Itulah mengapa aku sering mual belakangan ini. "Siapa kau?" tanya ku.
"Sayang kau lupa aku? Coba perhatikan wajahku. " ucapnya. Wajahnya terlihat akrab. Ah anak itu, yang mengambil uangku saat smp.
"K-KAU?!"
"AKU SANGAT MEMBENCIMU BERENG*EK! !"
"KAU YANG MUNCUL DALAM MIMPI ITU HAH?! " aku lebih sakit hati. Aku kira itu hanyalah mimpi. Beberapa kali aku memimpikan seseorang datang ke rumahku.
"JANGAN MEMBUATKU MARAH. "
"Aku mencintaimu! Aku tahu ini salah, tapi aku mencintaimu. "
"KAU BERENG*EK!! "
"Ma ayo pergi." hidupku hancur karena karena Tony. Aku rasa harus memutuskan hubungan dengan Hans. Aku tidak ingin dia sakit hati saat mengetahui aku hamil anak pria lain.
"JANGAN BERGERAK. " tony mengeluarkan pistol. Aku tidak peduli dan menyuruh mamaku untuk pergi.
"AKU BILANG JANGAN BERGERAK. " Suara pistol sangat keras membuatku terkejut. Dia membunuh mamaku!! Aku khawatir menghampiri mama.
"JANGAN BERGERAK JAL*NG! !" Suara pistol terdengar berulang kali. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini. Inilah akhir hidupku.
Warga melaporkan suara tembakan yang terdengar sangat keras. Polisi menyelidiki kasus ini, dan TONY menjadi tersangka pembunuhan. Berita pembunuhan ini menjadi terkenal di negara. Ciri-ciri korban sama dengan kekasihnya. Hans menatap kosong. Ia segera pergi ke kamarnya. Impiannya sudah tidak berarti lagi bagi Hans, terlebih kekasihnya hamil. Ia pergi ke loteng, tempat pertemuan pertamanya dengan kekasihnya. Hans tidak sanggup menahan semua kepedihan ini, ia menangis di loteng.
"Hidupku sudah tidak berarti tanpanya. " Ia pasrah jatuh dari loteng yang tinggi.
Saat aku melihat loteng, aku terkejut bahwa ia sedang berdiri disana. Hans, Hans kecil berdiri di sana. Aku memegang kakinya d-dengan tanganku. Dia tersenyum sama seperti waktu itu. Aku menariknya masuk dan memeluknya. Hans diam, aku tidak bisa menahan tangisan.
"Kalaupun ini mimpi, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Hans! "
"Aku harap begitu." Hans menjawab perkataanku.
"Kamu membuatku kecewa. Mengapa kau melakukannya dengan pria lain?! !" perkataannya tidak cocok untuk dia yang masih kecil. M-mengapa dia ?!
"A-apa ini k-kenyataan? "
"Aku rasa..mungkin seperti surga? " ucap Hans.
"Jadi kau bukan Hans? !"
"AH, tentu saja dia pasti sudah hidup bahagia dengan wanita lain." ucap ku sedih.
"Aku adalah Hans, kekasihmu. " Ia berbisik kepadaku dan berkata kalau ia juga sudah mati..bunuh diri. Aku mengatakan aku juga tidak tahu mengapa aku hamil, aku benar-benar tidak tahu. Kehidupan baru dimulai, kami merahasiakannya dari orang-orang termasuk orang tuaku. Perlu belasan tahun lagi untuk segera menikah tetapi aku senang bisa hidup kembali bersama Hans.
Catatan: Cerita ini gw tulis karena gw gak mau melupakan mimpinya. Jujur gw kangen sama cowoknya di mimpi. Tapi ya, ceritanya gak 100% murni seperti di mimpi. Aku ubah sedikit nama tokohnya, alurnya, dan sebenarnya si tony di mimpi gw seorang psikopat. Dan tony gak ambil uang gw yang jatuh, alias karena masalah lain. Tapi gw cuman ingat nama tony aja. Nama cowoknya sama ceweknya lupaðŸ˜.

Komentar
Posting Komentar